Thursday, December 4, 2014

Ku Cintai Kau dan Agamamu

Gadisku, dengarlah
Tiada warna lain menghiasi imajiku
Tiada nada lain mengalun dalam radioku
Hanya kau menari-nari pikiranku

Gadisku, lihatlah
Tiada bintang malam menemani payung teduhku
Tiada dingin malam merangkul dekap tubuhku
Hanya kau mengitari mimpi-mimpiku

Gadisku, ungkapkanlah
Tiada sepi merenggut nafasmu
Tiada duka melumuri air matamu
Hanya aku penantimu, setia

Gadisku, terimalah
Guratan sajak pada lembar akhirku
Torehan pena pada lembar baru kita
Untaian pengikat keyakinan kita
Karena,
Tiada lemah hariku; dirimu di sini
Tiada lelah jiwaku; jiwamu menyertai
Kau, dan agamamu
Ku cintai segala rupamu
Gadisku

Monday, October 20, 2014

Sang Presiden, Jokowi

Jokowi!
Jokowi!
Namamu mengudara membentang Pertiwi

Jokowi!
Jokowi!
Namamu menggetarkan seluruh Negeri

Jokowi!
Jokowi!
Namamu menggelombang seluruh Samudera

Jokowi!
Jokowi!
Kini engkau Pemimpin tanah air

Tak ada yang berbisik
Tak ada yang berdiam diri
Rakyat mengelukan namamu, merayakan kemenangannya
Rakyat menanti tetes keringatmu, menampung hasil akhir kerjamu

Harapan kami dalam genggammu
Cita-cita kami dalam langkah-langkahmu
Masa depan kami dalam keputusanmu
Kami menanti Indonesia dalam agendamu

Maju, bangkit, dan hebat
Teruntukmu Presidenku, Joko Widodo

Tuesday, October 14, 2014

De, Ini Tentangmu

"De, apakah hujan takkan pernah datang lagi?"
Aku merindunya

Bulan-bulan air, menderas bagai jeruji; penjarakan mataku padamu
Bingkai embun berkaca di mataku
Bungkam aksara, seperti melompati ujung lidah; tertahan gerbang-gerbang bibir
Bisu lirik ini tak bernada

Cakap wicaramu buka gempita gubuk hati
Cinta, mencambuk logika; mati suri

Dilema mengadu domba
Derita menunggu di ujung mimpi, tentangmu; jadikanya bomerang
"De, hujan pasti mengering begitu pula tentangmu"
Dirimu kembali pulang tinggalkan lebam, sisakan pelangi; memudar

Ego menguak, menumpahkan segala rasa
Entahlah, andai hujan saat itu aku simpan; kau milikku

"De, apakah hujan akan kembali lagi?"
Aku selalu merindunya

Thursday, October 9, 2014

Abjad Kesedihan

Kau seperti ketiadaan yang menyakitkan
Lara menguasai semesta pikiran
Merobek kanvas pelangi dan rintik hujan
Nestapa tak berujung, meski di tepian

Ode secarik tak cukup mengaitkan senyuman di pipi
Percik tintanya bermuara menodai
Rumah peri dalam lidah dan gigi
Sementara sayapnya, hanya sebatas sakit penuh duri

Tumpahkan semua tangis dalam bak kesedihan
Untuk sekedar menertawakan sandiwara atau sebatas menyindir kebahagiaan

Waktu hanya untuk abjadku berlumur kesedihan
Ya, hanya untuk abjadku berpeluh kesedihan

Thursday, September 11, 2014

Jejak Tertinggal

Tak banyak jejak-jejakku tertinggal
Mungkin hanya rindu yang nampak
Aku tak pernah menyisakan sesal
Karena tak ada sedikit noda yang membekaskan bercak

Serangkaian nada mengalun rendah
Beriak pada liang tenggorokan
Hanya sedikit ku dengar desah
Merintih tertahan; perlahan-lahan

Burung-burung mengudara bersiul seperti bibirmu
Cakap ranting pohon berhamburan seperti langkah kakimu
Dera hujan berjatuhan seperti tangis pipimu
Elegi menimpaku setelah tinggalkanmu

Aku jejak-jejakmu
Kau pijak-pijakku
"Sesederhana itukah langkah-langkah?"