Showing posts with label puisi. Show all posts
Showing posts with label puisi. Show all posts

Saturday, August 17, 2019

Rembulan di Agustus

Pandangimu sejauh ini tak buatku sesal
Hanya sedikit tergelitik dan agak kesal
Bukan apa-apa
Kau tak sanggup kugapai

Bilamana cara 'tuk menggapai?
Bila kau jauh berjarak amat jauh
Bilamana cara 'tuk memandangi?
Bila kau nampak tak selalu utuh

Terlalu kuat angan mencari keberadaanmu
Meski sudah tahu takkan terjadi
Tetapi diri tetap tersenyum saat kau bertamu
Meski sudah tahu bukan untuk berbagi

Lidah kelu menahan kata-kata
Bahkan kalimat yang sudah dijadikan buku
Mungkin sekarang sudah usang dan dilupa
Karena tersimpan dalam tumpukan debu

Rembulan di bulan ini; buatku rindu

Thursday, March 19, 2015

Taman Hatimu

Pernah ku tanam sebutir benih cinta
Tepat di taman hatinya
Begitu gersangnya, saat itu
Sebelum butiran debu miliknya menumpuk
Aku menyapunya

Tak lupa aku menyiramnya setiap saat
Ketika taman itu mulai terang dan menjelang gelap

Perlahan benih itu meninggi menggapai langit
Tangan pun tak sanggup memetiknya

Gugur bunga di taman membuatnya semakin wangi
Berjuta aroma menyelami hidung dan tinggal di dalamnya
Tapi tidak dengan akarnya
Entah sampai kapan harus menunggunya
Merambat mencapai inti hatinya

Friday, March 13, 2015

Tak Perlu Jauh-jauh

Tempatku berpijak memang di sini
Tak perlu berlabuh ataupun beranjak
Karena memang, di sinilah aku

Begitu pula dirimu
Menduduki tempat yang sama di sana
Karena memang, di sanalah kau meniti hidup

Tak lebih aku memandangmu,
Sebagai putri para dewi-dewi
Mengagumi tingkahmu layaknya sang ratu
Mengagumi bahasamu layaknya ibu pertiwi
Segalanya, kau seutuhnya

Tak perlu menanti bintang malam, dirimu sudah cukup menerangiku
Tak perlu mengharapkan pelangi, karena dirimu sudah mewarnai hidupku

Tak perlu jauh-jauh mencari keindahan
Pada dirimu, ku temukan segalanya

Tuesday, December 9, 2014

Kembalilah, Rindu ini Menanyakanmu

Berangkat dari kotamu yang dingin
Menelusuri jalanan basah setelah hujan mengoyaknya
Ada rindu-rindu tertinggal di sepanjang jalan
Ia tersapu oleh angin malam

Rintik-rintik masih memanah tubuhku
Menusuk, hingga menciptakan luka dalam
Terlebih pekat malam, mengancamku dari kumpulan kenangan
Aku takut, bila esok masih terulang

Jalanan tak pernah terlintasi selama ini
Waktu seperti berlari mengejar kepergian
Tak seperti mata yang menatap terus ke belakang
Dingin masih berkecambuk
Sepi tak segan melucuti kehangatan tubuhmu yang masih melebam
Begitu pula air mata, masih mengguyur kesedihan tanpa henti

Kembalilah kasih

Thursday, December 4, 2014

Ku Cintai Kau dan Agamamu

Gadisku, dengarlah
Tiada warna lain menghiasi imajiku
Tiada nada lain mengalun dalam radioku
Hanya kau menari-nari pikiranku

Gadisku, lihatlah
Tiada bintang malam menemani payung teduhku
Tiada dingin malam merangkul dekap tubuhku
Hanya kau mengitari mimpi-mimpiku

Gadisku, ungkapkanlah
Tiada sepi merenggut nafasmu
Tiada duka melumuri air matamu
Hanya aku penantimu, setia

Gadisku, terimalah
Guratan sajak pada lembar akhirku
Torehan pena pada lembar baru kita
Untaian pengikat keyakinan kita
Karena,
Tiada lemah hariku; dirimu di sini
Tiada lelah jiwaku; jiwamu menyertai
Kau, dan agamamu
Ku cintai segala rupamu
Gadisku

Monday, October 20, 2014

Sang Presiden, Jokowi

Jokowi!
Jokowi!
Namamu mengudara membentang Pertiwi

Jokowi!
Jokowi!
Namamu menggetarkan seluruh Negeri

Jokowi!
Jokowi!
Namamu menggelombang seluruh Samudera

Jokowi!
Jokowi!
Kini engkau Pemimpin tanah air

Tak ada yang berbisik
Tak ada yang berdiam diri
Rakyat mengelukan namamu, merayakan kemenangannya
Rakyat menanti tetes keringatmu, menampung hasil akhir kerjamu

Harapan kami dalam genggammu
Cita-cita kami dalam langkah-langkahmu
Masa depan kami dalam keputusanmu
Kami menanti Indonesia dalam agendamu

Maju, bangkit, dan hebat
Teruntukmu Presidenku, Joko Widodo

Tuesday, October 14, 2014

De, Ini Tentangmu

"De, apakah hujan takkan pernah datang lagi?"
Aku merindunya

Bulan-bulan air, menderas bagai jeruji; penjarakan mataku padamu
Bingkai embun berkaca di mataku
Bungkam aksara, seperti melompati ujung lidah; tertahan gerbang-gerbang bibir
Bisu lirik ini tak bernada

Cakap wicaramu buka gempita gubuk hati
Cinta, mencambuk logika; mati suri

Dilema mengadu domba
Derita menunggu di ujung mimpi, tentangmu; jadikanya bomerang
"De, hujan pasti mengering begitu pula tentangmu"
Dirimu kembali pulang tinggalkan lebam, sisakan pelangi; memudar

Ego menguak, menumpahkan segala rasa
Entahlah, andai hujan saat itu aku simpan; kau milikku

"De, apakah hujan akan kembali lagi?"
Aku selalu merindunya

Thursday, October 9, 2014

Abjad Kesedihan

Kau seperti ketiadaan yang menyakitkan
Lara menguasai semesta pikiran
Merobek kanvas pelangi dan rintik hujan
Nestapa tak berujung, meski di tepian

Ode secarik tak cukup mengaitkan senyuman di pipi
Percik tintanya bermuara menodai
Rumah peri dalam lidah dan gigi
Sementara sayapnya, hanya sebatas sakit penuh duri

Tumpahkan semua tangis dalam bak kesedihan
Untuk sekedar menertawakan sandiwara atau sebatas menyindir kebahagiaan

Waktu hanya untuk abjadku berlumur kesedihan
Ya, hanya untuk abjadku berpeluh kesedihan

Thursday, September 11, 2014

Jejak Tertinggal

Tak banyak jejak-jejakku tertinggal
Mungkin hanya rindu yang nampak
Aku tak pernah menyisakan sesal
Karena tak ada sedikit noda yang membekaskan bercak

Serangkaian nada mengalun rendah
Beriak pada liang tenggorokan
Hanya sedikit ku dengar desah
Merintih tertahan; perlahan-lahan

Burung-burung mengudara bersiul seperti bibirmu
Cakap ranting pohon berhamburan seperti langkah kakimu
Dera hujan berjatuhan seperti tangis pipimu
Elegi menimpaku setelah tinggalkanmu

Aku jejak-jejakmu
Kau pijak-pijakku
"Sesederhana itukah langkah-langkah?"

Tuesday, September 9, 2014

Rupa Nan Ayu

Aku pernah melihat mawar nan indah
Mekar di sepanjang taman nan merah
Aku terkagum oleh ronamu
Aku terpesona akan ragamu
Kau mawar tamanku

Rupamu nan ayu
Menyerbak wewangian sepanjang udara yang terhirup
Ragaku terhanyut
Terombak lautan paras ayumu; aku larut

Tak cukup aku habiskan malam ini sekarang
Masihku terpesona pada raga yang membalutmu
Sungguh ayu dirimu
Tak terkira bila harus berakhir; aku yang malang

Kota yang jarang aku singgahi
Kota yang menyimpan keelokkan seperti dirimu
Dirimu nan ayu
Berlenggok bak seorang putri
Mengayunkan tangan yang sepi
"Bolehkah aku menggenggamnya?"
Karena aku ingin meramaikan jemarimu yang masih sepi
"Aku tak bergumam"
Karena aku yakin akan ada cincin yang melingkar di jari manismu

Di suatu saat ketika rupamu nan ayu jadi milikku
Di saat itulah purnama malam ini jadi saksi janjiku
Padamu, rupa nan ayu

Saturday, August 30, 2014

Tanah dan Langit

Hari berganti mengulang detik
Mentari tetap melintang di garis cakrawala
Tapi aku tidak bersandar pada dinding yang sama
Pertiwi baru ini aku perkenalkan

Pepohonan hijau merindang
Membagi tanah dan langit pertiwi baru ini
Aku mewarnai hamparan bebatuan kecil itu dengan selembar sejarah
Masa depan akan tercipta
Kau dan aku

Hangat terik merangkul tubuhmu
Seteduh biru langit itu memayungimu; aku di sampingmu
Perjalanan setapak akan mengawali hariku denganmu
Halaman pertama sejarah ini akan terpenuhi kebahagiaan
Kau dan aku
Tanah dan langit kita
Pertiwi kita

Thursday, August 21, 2014

Gugurkan Aku, Waktu

Waktu menggugurkan ramai
Menepikan hati pada peraduan sepi
Angin berbisik mengusik
Menertawai hati yang selalu sepi
"Ya, hatiku sepi"
Terdengar bagai hujan tanpa air; tak berarti
Ia tak memiliki hati
Begitu pula engkau; angin

Kosong yang selalu kurasa
Hampa ruang ketika malam bersambut
Seakan bisu malam adalah sahabat abadi
Tak mati; tak lenyap

Serdadu debu terhembus
Tak letih tumpukkan dirinya
Pada kursi tua taman ini
Sesak nafas menyaksikan kenangan di atas bangku tua itu
Bertutur dalam eja; aku terbata

"Uraikan saja aku!"
Pintaku meleburkan diri dalam basuh gerimis; kini
Hujan mungkin tiba, tapi tidak dengan pelangi
Warnanya terhapus karena kenangan
Hanya abu menguasnya
Mengirisnya menjadi serpihan-seepihan

Thursday, July 24, 2014

Firasatku

Angin tak mengabarkan dirinya
Begitu pula awan-awan itu
Mereka terhenti dan memudar

Gelap, begitu gelap
"Ke mana pergi bintang-bintangmu, kasih?"
Pujangga ini merindunya
Tatap matanya berlinang bagai bintang yang dirindunya

Goresan pena coba ukir asanya
Berharap bintang 'kan bersinar malam ini
Sudah begitu larut rindu ini
Hingga angin tak pernah datang

Hatiku gelisah menantinya
Ia bergejolak menghantui pikiran dan rasaku
"Apa yang akan terjadi?"
Pujangga ini meniti hari esok yang misteri

Aku takut jika esok tak ada lagi angin
Aku takut jika bintang tak pernah bersinar kembali
Aku takut hujan akan menertawaiku
Aku takut matahari menutup matanya
Hingga tersisa hanya hari
Gelap, dan gelap

Firasatku menggenggam erat rasaku
Melumpuhkan logikaku
Menghitamkan asaku
"Aku takut!"

Tuesday, July 15, 2014

Gajah Mada

Lihatlah jalan tua di pusat kota ini
Ia tampil gagah
Beranjak meninggalkan baju lamanya
Melucuti kain lusuhnya yang kusut
Tapi tidak dengan tubuhnya
Ia tetap jalan tuaku,
Ia jalan tuamu

Dua puluh tahun sudah aku bersaksi
Menyaksikan tanah tua ini terbangun
Oleh tangan seniman yang tak bernama
Mungkin ia yang kau sebut Tuhan

Masih ku terpaku di sudut keramaian yang kau sebut pasar ini
Masih terlihat sungai kecil yang mengalun indah
Entah di mana ia bermuara nanti
Atau mungkin akan tersesat dalam wadah cangkirmu
Jangan kau teguk setetes pun
Karena benihnya sangat berharga bagiku
"Ini milikku!"
Teriak hati Sang Gajah Mada
Aku tertegun

Tak pernah cukup waktuku untuk mengukir
Lukisan pena di atas tanah megah ini
Karena waktu pun tak bermusuh dengannya

Dua puluh menit aku memandangmu
Tak cukup rasa kagum ini berkumpul
Ingin rasanya tersampai untukmu
Apa daya kau hanya sebuah jalan tua
Gajah Mada

Sunday, July 6, 2014

Tinggal Kenangan

"Apa yang bisa aku cari?"
"Apa yang bisa aku dapatkan?"
Jika satu-satunya hal yang aku butuhkan telah sirna
Kulminasi kesepian tak terelakkan

Waktu adalah musuh terbesar hidupku,
Aku tak pernah menang

Terlalu munafik jika  hanya menyalahkan waktu
Memenjarakan detiknya untuk sebuah panggung sandiwara
Menertawakan kisahnya untuk sebuah keputusasaan

Mereka tak pernah tahu,
Takkan pernah tahu
Nafas yang ku hela menyiratkan syair cinta untuknya
Nafas yang ku hembus melantunkan nada cinta untuknya
Dia tak pernah tahu,
Takkan pernah tahu

Sejarah tercipta untuk dikenang
Tak bisa aku rubah drama di dalamnya
Tak bisa aku hilangkan bumbu kisah di antaranya
Biarkan semua terkikis bersama asa
Biarkan semua meninggalkan kenangan
Biarkan aku terlelap mengunci mata
Agar sedih ini tak terlihat olehnya
Agar hanya aku sedih bertuan pedih

Thursday, July 3, 2014

Pelipur Lara

Sudah terlampau jauh,
Sangat jauh
Tentang waktu yang ku rasa semu
Setelah asa tertelan oleh dahaga cinta

Mungkin ia terpendam terlalu dalam
Hingga indahnya kering bersama jingga

Malam tersuguhkan untuk sebuah massa,
Massa senja yang telah terbenam
Tentang jiwa yang tak sanggup terobati
Oleh penghibur malam yang kau sebut bintang

Mentari esok pasti terbangun
Walau asa masih memendam dan membayangkan elegi pagi
Hati ini takut menyambutnya

Wahai matahari,
Biarkan panasmu melebur hati
Biarkan sinarmu merasuki hati,
Menyelinap di setiap celah,
Ruang gelap keterpurukan hati
Lalu,
Biarkan terangnya bersinar sebagai pelipur lara
Pelipur lara yang menertawakan massa
Pelipur lara yang menarikan luka
Pelipur lara yang membunuh kesepian

Saturday, June 28, 2014

Pergi Jauh

Bara api melebur arang hati
Ia; kobarkan amarah
Ia; rontokkan helai-helai kasih
Aku retak

Bara api melambung ubun-ubun
Hujan badai tak sanggup redakannya
Air berjatuhan kedipkan perciknya sesaat
Tak padam
Tak pernah padam

Bara api menggapai titik terdidihnya
Angin iba,
Ia; redupkan api
Ia; lenyapkan amarah
Sesaat aku redup, tersapu angin

Tidak,
Api telah padam namun bara tetap memerah
Aku rapuh, hancur

Sisa hati tertinggal abu
Menghitam, lemah
Tak bersisa

Hembuskan aku jauh darimu
Pergi sejauh waktu kenangan itu
Jauh sebelum waktu pertemukan hati
Bawa aku pergi jauh; angin

Wednesday, June 25, 2014

Kecewa

Aku menolak lupa
Lupa akan luka yang berjalan
Melumati serat-serat pembuluh darah
Menghunjam tepat di hati

Tak kau bayangkan perihnya
Hati terjamah rasa kecewa
Oleh kosa kata wicaramu
Tentang perasaan cinta yang tak kau sambut
Tentang penantian yang tak kau temui
Aku kehilangan asa

Aku tak pernah lupa
Lupa untuk meniti hari-hari sepi
Setelah perjamuan itu
Hatiku gersang dan tandus

Jendela hari tak pernah bersinar
Hujan dan gemuruh temui bumi
Bagai hatiku kini
Kecewa

Sunday, June 15, 2014

Sajak Rindu

Sudahku titipkan rindu pada garam laut
Sudahku sisipkan rasa sepi pada airnya
Untaian aksara akan rinduku padamu
Ku kirimkan bersama ombak-ombak
Menderakan karang
Berderai di tepi pantai

Rinduku nan sani merintih
Terombang-ambing mencari dermaga
Tak elak berubah elegi
Terpecah oleh karang-karang

Rinduku hancur
Lebam dan muram
Rangkul sisa serpihan ketepian
Rangkailah kembali
Maka ia mewartakan keadaanku kini
Tentang syahdu lagu rindu

Wednesday, June 11, 2014

Sakit Teramat Sakit

Jangan tatap mataku
Karena kehampaan melingkari hitamnya
Jangan dengar ceritaku
Karena keasingan menggumpal di dalamnya
Jangan sentuh pipiku
Karena kebekuan menyelimuti sisi-sisinya

"Kenapa kau rangkul aku lagi?"
"Hilangkah sadarmu?"
Aku sakit
Hatiku sakit
Kau sayat lagi bekas luka kemarin sore
Belum kering perihnya
Kau timpa lagi timah panas itu

Hujan deritamu terus mengguyur sedihku
Menghunjam lubuk hati tanpa henti
Musnah rasaku untukmu
Sayang kau enggan kabulkan doaku
Untuk menjauh darimu selamanya